Kamis, Desember 1, 2022

Dianggap Ambil Sikap Bermusuhan Ketika Arab Saudi Tak Mau Tunduk Pada AS Soal Minyak

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
31

 

Stateranews.com| Tegas tolak permintaan untuk meningkatkan produksi minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dianggap bertindak bermusuhan terhadap Amerika Serikat (AS). Pernyataan itu disampaikan tiga anggota Parlemen Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat. Mereka mendesak pemerintah Joe Biden untuk menarik seluruh pasukan Washington dari Arab Saudi dan UEA.

Diketahui bahwa  kedua negara kaya minyak mengumumkan akan memangkas produksi minyak, sebuah langkah yang diperkirakan akan memicu kenaikan harga gas di AS. Sikap kedua negara ini terang-terangan berseberangan dengan kebijakan AS.

Sementara itu, beberapa politisi Partai Demokrat yakni Tom Malinowski asal New Jersey, Sean Casten asal Illinois, dan Susan Wild asal Pennsylvania pada Rabu malam lalu mengajukan rancangan undang-undang (RUU) untuk menarik seluruh pasukan dan peralatan militer AS dari dua negara kaya minyak tersebut.

BACA JUGA : Sekitar 18 Ribu Warga Aceh Utara Mengungsi Akibat Hujan Deras serta Luapan Sungai Krueng dan Pirak

“Pengurangan drastis produksi minyak Arab Saudi dan UEA adalah tindakan bermusuhan terhadap Amerika Serikat dan sinyal yang jelas bahwa mereka telah memilih untuk berpihak pada Rusia dalam perangnya melawan Ukraina,” kata tiga anggota Parlemen AS itu.

Masih menurut mereka, kedua negara telah lama mengandalkan kehadiran militer Amerika di Teluk untuk melindungi keamanan dan ladang minyak mereka. Tidak ada alasan mengapa pasukan dan kontraktor Amerika harus terus memberikan layanan ini kepada negara-negara yang secara aktif bekerja melawan AS.

Dikutip dari Military.com hari ini, Jumat (07/10/22), para politisi itu menyatakan jika Arab Saudi dan UEA ingin membantu Presiden Rusia Vladimir Putin, mereka harus meminta pembelaan darinya. Diketahui sekitar 3.000 tentara AS di Arab Saudi dan 2.000 di UEA.

- Advertisement -

Jumlah tersebut telah ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir untuk membantu melindungi negara-negara tersebut dari serangan rudal oleh pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran. Kehadiran militer AS juga mencakup sistem pertahanan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

BACA JUGA : Joe Biden Bakal Legalkan Ganja Serta Hapus Hukuman Bui Terkait Mariyuana

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan beberapa negara penghasil minyak lainnya termasuk Rusia, mengumumkan akan mengurangi produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari. Arab Saudi dianggap sebagai pemimpin de facto organisasi tersebut.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran AS bahwa harga gas akan naik sekitar 15 hingga 30 persen per galon. Keputusan OPEC untuk memangkas produksi minyak terjadi setelah Presiden Joe Biden yang selama kampanye kepresidenannya bersumpah untuk mengubah Arab Saudi menjadi “paria” atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Amerika Serikat berusaha untuk memperbaiki hubungan dalam upaya untuk meyakinkan Kerajaan Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyak guna mengimbangi efek perang di Ukraina. Presiden Biden melakukan segala upaya untuk memperbaiknya, sejauh bertemu dengan Putra Mahkota Saudi secara pribadi di Riyadh, terlepas dari perannya dalam pembunuhan Jamal Khashoggi. (sn)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
31

6 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Artikel Terbaru

- Advertisement -